404 Tahun Kota Makassar. Makassar Dalam Kacamataku.

Written by faizalramadhan

Dilahirkan di pelosok desa nun jauh di Papua sana, di distrik Bade kabupaten Marauke. Dilahirkan di dalam sebuah kamar pada sebuah rumah kayu sederhana di seberang Sungai Digul, sungai tempat dibuangnya Bung Karno. Setelah numpang dilahirkan di Papua, tahun 1989 ketika saya berumur setahun lebih. Orang tua saya memutuskan untuk kembali ke tanah kelahiran, tanah kampung halaman, Makassar.

Makassar sewaktu kecilku

Dibesarkan di Makassar, bukan di sepanjang jalan pinggir Losari, bukan di kawasan elit Panakkukang, apalagi dibesarkan di lokasi ‘kota baru’ Tanjung Bunga. Tetapi saya dibesarkan dahulu di mana tawuran adalah hal yang biasa, miras adalah minuman ‘persahabatan’, judi adalah hal rutin yang menyenangkan bahkan ‘esek-esek’ merupakan perdagangan dengan perputaran uang yang besar. Yak, saya dibesarkan di kelurahan Barabarayya. Daerah di mana orang menyebutnya daerah ‘Texas’.

SUmber foto http://majalahversi.com/galeri/kanal-makassar-1

Cukuplah nama sebuah lorong di dekat rumah saya mewakili kerasnya kehidupan masyarakat asli Makassar. Lorong tersebut dinamakan ‘Lorong Neraka’. Lorong tempat bermain saya sewaktu kecil. Lorong dengan segala dinamika yang menyertainya. Lorong yang memberi banyak kenangan yang memberi simpul senyum pada bibir saya.

Di tempat inilah saya menghabiskan masa kecil saya. Dikenalkan dengan kehidupan urban yang termarjinalkan. Ditempa dengan kerasnya sikap masyarakat yang ‘dipaksa’ untuk berjuang di kerasnya hidup kota. Di pinggir kanal, di sinilah saya bermain layangan. Di sinilah saya belajar mengendarai sepeda, bermain kelereng, main Playstation, belajar membuat palappo busi (petasan), meriam bambu, bahkan belajar membuat panah busur beracun (yang terakhir itu jangan ditiru).

Tetapi di sini pula saya belajar mengaji, belajar pentingnya sholat 5 waktu, belajar pentingnya nilai-nilai agama dan pentingnya pendidikan serta di sini pula karakter saya dibentuk sedari kecil.

Alhamdulillah sekarang Barabarayya telah berubah banyak. Sejak meninggalnya beberapa bos preman dan warga semakin dewasa berpikir, kejadian tawuran dan hal-hal negatif lainnya telah jauh berkurang. Bahkan saya tidak pernah lagi mendengar kejadian tawuran di Barabarayya. Hal yang patut disyukuri.

Saya tetap bersyukur dan tidak pernah menyesal bisa dibesarkan di Barabarayya.

Pindah rumah

Sisi lain dari kota Makassar saya rasakan di tahun 2001. Ketika kedua kakak saya berhasil masuk di Universitas Hasanuddin, keluarga kami memutuskan untuk pindah rumah. Karena jauhnya jarak antara Unhas dan rumah kami, maka keluarga pun memutuskan untuk pindah rumah ke Kecamatan Tamalanrea, tepatnya di Bumi Tamalanrea Permai (BTP). Perumahan yang letaknya jauh dari pusat kota. Perumahan yang berdekatan dengan Kampus Unhas. Alhamdulillah keputusan orang tua saya itu tepat, karena akhirnya seluruh anaknya bisa berhasil masuk di Kampus Unhas yang katanya ‘terbaik’ di Indonesia Timur tersebut.

Di BTP ini saya menghabiskan masa remaja saya sampai sekarang ini. Di daerah yang difokuskan sebagai kawasan pendidikan kota Makassar. Di sebuah daerah yang memberi rasa lain terhadap kota Makassar. Kawasan yang dipenuhi oleh kemajemukan. Di sinilah saya belajar mengenal hidup dalam toleransi keberagaman. Dari berbagai suku berkumpul dan menghiasi geliat kehidupan kota Makassar.  Sangat indah.

404 tahun kota Makassar

Pantai Losari

Kini, kotaku, kota Makassar, telah berumur 404 tahun. Kota yang sedang berbenah menuju kota dunia. Makin bersolek dengan kemajuan zaman, dan makin ramai dengan kreatifitas anak mudanya. Namun juga makin semrawut dengan kemacetan, makin dibanjiri sampah visual berupa baligho dan tentu saja yang memiriskan masih sering ‘dihiasi’ oleh tawuran yang sungguh sangat kampungan.

Makassar, kotaku yang semakin menua. Teruslah berbenah ke arah yang lebih baik. Semoga engkau makin dicintai, memberi kenyamanan bagi masyarakatnya dan bagi para tamu.

Selamat ulang tahun Makassar.

‘Nakke anak Makassar ces’

About The Author

faizalramadhan - Civil Engineering Student, Blogger, Social Media Enthusiast, Creative & Positive Thinker, Contributor of @mkstdkksr & @paccarita. Let's make friends with me in Twitter, Facebook, & Last.fm

Connect & Subscribe

Keep in touch and get my latest content trough:

Post Info

5 Responses for This Thought

  1. mawi wijna

    27 November 2011

    Bulan Oktober silam saya baru saja mengunjungi kota Makassar. Saya terpukau dengan kota ini, aktivitasnya dan budayanya yang berbeda dari asal saya di Jogja. Dalam beberapa hal, saya lihat Makassar hampir menyerupai Jakarta. Namun ketika saya membaca artikel anda mengenai kelurahan Barabarayya, saya cukup terkejut bahwa ternyata ada wilayah di Makassar yang identik dengan “kekerasan”.

    Reply
    • faizalramadhan

      27 November 2011

      Yak, konsekuensi dari kota metropolis kebanyakan.
      Tapi sekarang Barabarayya telah menjadi kelurahan yang damai. Sejak bos besarnya meninggal. tidak pernah lagi ada tawuran warga di daerah tersebut.

      ‘Makassar Tidak kasar’

      Reply
  2. indobrad

    28 November 2011

    sepertinya saya baru pertama kali berkunjung kemari dan langsung terpikat dengan gaya bertuturnya. Di tulisan ini, penggambaran Makassar sangat manusiawi :)

    Reply
    • faizalramadhan

      28 November 2011

      Wah. Terima kasih Opa Brad telah berkunjung dan meninggalkan jejak. :)

      Reply
  3. dg.Marzuki

    14 January 2012

    saya juga lahir dan dibesarkan di Pettarani, kondisi yang anda alami sama dengan saya waktu itu. Namun kunjungan tahun 2011 sejak kutinggalkan 20 th yang lalu menunjukkan makassar telah banyak berubah kearah yang sangat dinamis, aman (tidak ditemukan tawuran) jadi kemana-mana terasa nyaman, semoga makassarku terus berbenah menjadi kota wisata yang nyaman, kota yang selalu dirindukan & kota semilir angin mammiri yang menyejukkan hati. selamat ultah kota makassarku yg ke 404, kota yang slalu kukenang sepanjang hayatku. Salam dari Palembang

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>